Pencurahan seorang sarjana teknik sipil keturunan Jawa ndeso yang nyemplung ke kolam minyak.

Tiap hari dia selalu menemukan sesuatu yang baru berdasarkan pemikiran, pembelajaran dan pengalamannya sendiri.

Kegagalan selalu membuatnya penasaran untuk terus mencoba dan menggali yang lebih dalam lagi.

Kegalauan juga kadang menghampirinya, namun dengan secangkir kopi panas, hangout di coffee shop, angkat besi di gym atau lari sore sejauh 5 km cukup membuatnya kembali ceria.

Hidup di tengah perbedaan dan sering menjadi kelompok minoritas membuatnya mudah untuk beradaptasi, bertoleransi dan terbuka sama hal-hal baru yang belum diketahuinya.

Terima kasih untuk teman-teman yang mau membaca tulisan di blog ini. Mohon dimaafkan apabila ada salah-salah kata. Hehe.

Kalo ada yang mau share tentang hal apapun ataupun memberikan saran dan kritik langsung aja kontek si pemilik blog di erlanggasd@gmail.com. Ditunggu ya.. Have a good life, kawan! :)

-erlanggasd-

 

Makhluk Move On

Tanpa gue sadari, empat hari dari saat gue menulis ini gue akan move on ke kehidupan yang baru. Kehidupan yang belum pernah gue rasakan sebelumnya. Gue akan lepas dari bonyok gue. Dalam artian lepas dari tanggung jawab bonyok dan gue akan menopang kehidupan gue menggunakan kaki gue sendiri. Ya, gue akan mulai mengejar mimpi-mimpi gue.

Saat gue menulis ini, kata-kata gaul yang paling sering dipakai untuk menggambarkan perasaan seseorang adalah galau dan move on. Galau itu semacem perasaan dimana seseorang mengalami suatu hal yang membuat hati menjadi gak karuan atau gak tenang. Kalo move on ya sama seperti artinya dalam bahasa Inggris, yaitu pindah.Kalo kata Jupe (Julia Perez): “Habis galau terbitlah move on”. Maksudnya Bergerak, berpindah dan survive meninggalkan kegalauan yang ada. Kira-kira seperti itulah arti move on.

Setelah gue sadari ternyata semenjak di perut nyokap pun gue udah melakukan hal yang disebut move on. Mulai dari bergerak di dalam perut nyokap. Pindah posisi tangan, pindah posisi kaki dan pindah posisi kepala. Bahkan gue juga di move on kan sama nyokap gue untuk pindah pulau saat ikut bokap gue ngerjain proyek ke Kalimantan. Yang paling hebat adalah nyokap me-move on kan gue dari dalam keluar perutnya. Muncullah gue yang sekarang. Hehe.

Apa yang ditulis di buku “Manusia Setengah Salmon” oleh Raditya Dika itu bener banget. Sebagai manusia kita seperti salmon, selalu berpindah-pindah. Untuk yang lagi galau bagus nih baca buku ini biar bisa move on. Hehe.

Setelah lahir dan tumbuh dewasa, gue tiap hari melakukan move on yang makin lama bebannya semakin berat. Mulai dari saat gue bayi. Paling move on nya hanya beranjak dari kasur untuk bisa makan, belajar ngomong dan jalan. Setiap manusia pasti mengalami fase itu, dan tentunya bagi bayi hal tersebut cukup berat tetapi akhirnya gue dan teman-teman bisa melakukannya.

Setelah menginjak bangku sekolah, gue harus berpindah tempat dari rumah ke sekolah untuk belajar setiap hari. Dari lingkungan keluarga ke lingkungan teman-teman dari berbagai latar belakang. Saat SD perpindahan gue hanya di dalam kompleks. Menginjak bangku SMP dan SMA perpindahan gue semakin jauh. Namun jauhnya masih di dalam kota Jakarta. Semakin berat juga bebannya untuk tetap bisa melakukan move on setiap hari. Pada akhirnya gue lulus dengan baik.

Saat kuliah gue harus berpindah kota. Ya gak jauh-jauh banget sih. Gue kuliah di Bandung. Karena beda kota, gue ngekos sendiri. Bebannya tentu saja lebih berat dibanding dengan sebelumnya. Mulai dari pergaulan yang banyak ragam dan pilihan. Kemudian semangat yang harus gue jaga untuk tetap bisa pergi kuliah tiap hari dan mempertanggung jawabkan hasil pembelajaran gue. Banyak godaan-godaan untuk melakukan tindakan yang sebelumnya belum pernah gue lakukan. Pasti anak kos ngertilah. Hehe.

Semuanya harus dipertanggungjawabkan ke bonyok gue dan Tuhan. Gue mulai merasa punya tanggung jawab penuh setelah gue kuliah. Gue hidup sendiri menjadi seorang anak kos. Karena udah gak diarahkan sama bonyok lagi ternyata move on seorang anak kos itu banyak banget jalurnya. Contoh jalurnya banyak banget dan teman-teman pasti mengerti yang gue maksud. Contoh sederhananya dalam perkuliahan, beberapa kali gue sering bolos karena males dan move on nya bukan ke kampus, melainkan ke mall. Hal itu pernah beberapa kali gue lakukan.Ya tapi pada akhirnya gue bisa pindah jalur. Hehe.

Untuk memilih jalur-jalur tersebut balik lagi ke tanggung jawab gue pribadi. Itu yang gue rasain saat itu. Move on  kejalur yang benar itu gak mudah tapi bisa. Puji Tuhan gue juga lulus dengan baik dari kampus gue.

Januari 2012 adalah saat dimana galau gue poll banget. Selain belum dapat kerjaan sesuai dengan minat gue,… Gue putus cinta man!! Arrrrgghhh!! Tapi pada akhirnya sih gue bisa mengambil jalur move on yang baik. Hehe. Maksudnya gak melakukan move on dengan melampiaskan ke hal-hal yang gak baik. Tapi jujur sih move on yang ini berat bray! Haha. Puji Tuhan rasa galau gue juga diobati dengan keterimanya gue di salah satu oil company yang ada. :)

Gue juga melihat bokap dan nyokap gue yang selalu melakukan move on. Mereka move on dari kampungnya ke kota Jakarta untuk mengejar hidup yang diinginkan. Move on yang ini disebut merantau. Kebetulan merantau adalah tradisi yang turun temurun di keluarga gue sebagai orang Jawa. Gue melihat perjuangan mereka gak enteng.

Sebenernya gak cuma orang Jawa. Tapi juga orang Sumatera, orang Bali, orang Sulawesi dan semua suku di Indonesia sepertinya juga sangat kental dengan kata merantau. Untuk skala yang lebih luas, lihat deh orang China. Ada gak negara yang tanpa keturunan dari China? Gue rasa walaupun ada juga sedikit. Merantau mereka skala internasional. Mungkin move on nya juga skala internasional tuh. Haha.

Ok balik lagi ke perantauan bonyok gue. Memulai kehidupan di Jakarta tanpa kenal siapapun, menjadi punya kenalan banyak. Dari beli rumah yang kecil, terus kerja keras sampai akhirnya bisa move on ke rumah yang lebih besar. Menyekolahkan gue dan dua orang adik gue dari TK, SD, SMP, SMA dan kuliah. Dan sekarang yang baru menjadi sarjana baru gue seorang. Adik gue yang pertama, Wisnu baru masuk ke semester 6 kuliahnya. Sedangkan adik gue yang kedua, Bima masih ada di kelas 2 SMA. Semua itu bisa dicapai karena bonyok gue terus melakukan move on setiap hari.

Dan sekarang adalah giliran gue untuk melakukan move on untuk mewujudkan mimpi-mimpi gue tanpa tuntunan dari bonyok. Tentunya selalu dengan tuntunan dari Tuhan. Gue gak akan tinggal lagi sama bonyok. Gue akan pindah ke tempat yang baru. Gue akan ninggalin zona nyaman yang selama ini gue tempati. Gue akan ketemu sama orang-orang baru yang belum gue kenal sebelumnya. Gue memiliki batasan waktu dan tempat kalau ingin bertemu dengan orang-orang dan teman-teman yang sekarang. Mungkin akan berat, tapi gue akan terus belajar untuk move on seperti ikan salmon yang selalu bermigrasi dengan melawan arus untuk bertelur .

Someday akan gue tulis kisah gue menginjakkan langkah ke dunia yang sebenarnya, dengan kaki gue sendiri.

Dari pemikiran gue yang telah gue curahkan lewat tulisan ini gue menyimpulkan, bahwa ternyata manusia yang udah diciptakan sama Tuhan adalah makhluk move on. Tuhan udah menyiptakan kita manusia yang punya potensi yang jauh lebih besar daripada seekor salmon.

Kalo gak gerak manusia bisa punah. Gak kebayang kalo manusia gak gerak ya gak akan makan dan minum, apalagi beregenerasi. Hehe. Kalo gak pindah tempat manusia bisa mati. Gak kebayang juga manusia kalo gak pindah tempat dari ranjang, gemana mau cari makan dan minum? Ya kira-kira seperti itu maksud gue.

So, untuk yang masih galau dan gak pindah-pindah tempat. Let’s move on, guys! :D

-erlanggasd-