A crazy kid who acts like a wonderful kid.

As time goes by he always meet a new life lesson by his mind or experience and to be shared in this blog.

A failure always evoke his curiosity to try again, try again and try again in a different ways.

Sometimes a confusion or bad feeling come to his heart. But a cup of coffee or exercise at gym or run outside could restore his good mood.

Life in the middle of diversity (religion, ethnic, culture) and often be a minority group make him easy for adapt, tolerant and open mind to new things.

Now he was working in an oil company and still find a way to retired as soon as possible. You know what I mean. Hehehe...

Even he worked in a multinational company, he loves Indonesia so much.

Thanks to all friends that have spent a time to read this blog. He will be very appreciate if you guys have feedbacks or suggestion for him. Please don't hesitate to contact this crazy kid at erlanggasd@gmail.com.

Have a good life, my friends! God bless you!

-erlanggasd-

 

Tentang Cinta dan Perbedaan

Sebelum nulis ini gue mencoba untuk nulis tulisan yang puitis dengan rangkaian kata yang indah tentang cinta di selembar kertas A4 polos. Kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf gue tulis dengan menggunakan pulpen. And you know what? selembar kertas A4 itu hanya penuh dengan kalimat-kalimat yang menurut gue kurang sempurna dalam menggambarkan cinta dan akhirnya hanya gue coret-coret aja.

Ternyata mengungkapkan cinta dengan kata-kata itu susah banget bray! Gue kurang pinter dalam mengungkapkan suatu hal dengan tulisan. Apalagi cinta. Selama ini gue lebih suka mengungkapkan cinta dengan tindakan. Agak iri sih sama penulis-penulis yang bisa mengungkapkan cinta yang dirasa dengan tulisan yang indah dan bisa ikut dinikmati sama banyak orang. Gue masih perlu belajar banyak untuk mengungkapkan apa yang gue rasakan menjadi suatu tulisan, ternyata cinta itu susah banget untuk dilampiaskan menjadi sebuah tulisan indah. Buat gue bikin laporan tentang desain gedung baja 10 lantai tahan gempa akan lebih mudah. Tugas akhir gue waktu kuliah dulu. Haha.

Ok! Sekarang gue mau menceritakan pengalaman gue pribadi dengan gaya gue sendiri. Banyak yang bilang menjadi diri sendiri akan lebih baik dibanding menjadi seperti yang bukan diri sendiri. Hehe.

Pertengahan tahun 2007 gue kenal sama seorang cewek. Cewek ini berdarah Sunda, sedikit ada Jawanya. Namanya Ayu. Semoga dia mengijinkan gue untuk make nama aslinya. Hehe. Gue kenal sama dia tanpa sengaja. Gue kenal dari dunia maya. Dulu kedengerannya sih unik. Tapi sekarang kayaknya udah banyak kejadian serupa yang mempertemukan dua orang yang akhirnya sampe menikah. Namanya jodoh emang gak kemana ya. Apakah hal itu sama dengan kisah gue? Gue lanjutkan.

Berangkat dari dunia maya yang awalnya menurut gue gak serius, gue mulai mengenal dia lewat komunikasi yang intensif dari handphone. Jujur sebelumnya gue juga pernah deket sama beberapa cewek, tapi gak ada yang spesial buat gue. Bisa dibilang hanya teman atau teman tapi mesra. Hehe. Entah gemana gue mulai tertarik sama cewek ini. Ada beberapa hal yang membuat gue sangat nyaman kalo lagi ngobrol sama dia. Bisa dibilang gue suka sama dia. Tapi belum lebih dari sekedar suka ya.

Gue memutuskan untuk ketemu sama dia sekitar bulan September 2007. Waktu itu gue nge-kost di Ciumbuleuit. Sedangkan dia tinggalnya di Terusan Buah Batu dekat ITT Telkom. Daerah Dayeuh Kolot (Jangan diketawain ya. Haha.. Ups). Kita ketemuan di Dunkin Donuts, Dago. Dekat dengan Plaza Dago. Awalnya agak canggung. Tadinya gue bisa ngomong secara bebas lewat telfon, tapi sekarang empat mata langsung!

Waktu awal tatap muka, jantung gue berdetak makin lama makin kencang, deg deg deg deg deg…, seperti genderang mau perang. Kayak lagunya Ahmad Dani. Haha. Awalnya gue cukup kaku waktu kenalan langsung sama dia, tapi lama kelamaan jadi santai aja. Di hari itu gue seneng bisa kenal dia secara langsung. Dan ternyata sesuai dengan ekspektasi gue, sikap dan attitudenya sama seperti yang gue bayangkan setelah mengenal dia sebatas handphone aja. Gue bisa nyambung ngobrol sama dia.

Tanggal 1 Oktober 2007 gue mencoba menyatakan apa yang ada di dalam isi hati gue sama dia. Ya, gue nembak dia. Bisa dibilang terlalu cepat dan buru-buru. Kurang dari satu bulan gue pendekatan. Gue diterima sama dia. Sebetulnya gue agak maksa sih pas nembak. Haha. Tapi karena kata dia gue baik sama dia, jadi gue diberikan kesempatan untuk jadi pacarnya.

Satu hal yang menjadi tantangan buat gue. Sebelumnya dia punya pengalaman yang buruk sama mantannya. Jadi hatinya sangat hati-hati dalam menerima gue secara total. Dia diselingkuhin sama mantannya. Tapi gue pikir karena gue juga gak macem-macem setelah berkomitmen, jadi hal itu sama sekali gak menjadi tantangan yang berat.

Awal pacaran dia cukup cuek sama gue. Cuek disini maksudnya dia gak peka sama apa yang gue rasa. Yang gue tau orang pacaran itu saling berempati. Tapi dia hanya simpati. Gue cukup mengerti, melihat pengalaman dia sama yang sebelumnya. Gue terus berusaha untuk berbuat hal yang membuat pandangan dia berubah sama laki-laki. Karena menurut dia semua laki-laki sama aja (sama kayak mantannya, brengsek).

Seiring berjalannya waktu dia udah mulai ngebuka hatinya untuk gue. Sikap cueknya makin lama makin berubah. Dan semakin berubah total setelah satu tahun gue jalan sama dia. Mungkin karena dia melihat sifat dan perilaku gue yang baik. Hehe.

Perasaan gue juga makin lama makin berubah. Dari yang tadinya suka jadi sayang. Dari yang tadinya sayang jadi cinta. Kira-kira dua sampai tiga tahun masa transisi itu. Dan gue juga belajar banyak tentang cinta itu sendiri.

Selama empat tahun kuliah mungkin gue lebih banyak menghabiskan waktu gue sama dia dibanding dengan teman-teman gue sendiri. Kebetulan dia juga kuliahnya di Unpar yang ada di Ciumbuleuit. Jadi sangat mudah bagi gue dan dia untuk ketemu.

Dia juga membuat gue lupa dengan kegilaan gue sama yang namanya basket. Saat SMA gue gila banget main basket. Dan gue jadi lebih pengen punya waktu yang lebih banyak sama dia dibandingkan gue harus ikut unit dan latihan basket. Tapi kegilaan gue sama fitnes gak teralihkan. Latihan di gym waktunya lebih fleksibel. Jadi gue bisa cari waktu latihan yang tepat. Selain itu dia juga bisa nemenin gue saat latihan. Jadi ya sering juga gue pacaran sembari latihan di gym. Hehe.

Gue sering nganter dia pulang ke rumahnya, yang jaraknya sekitar 13 km dari kos gue. Banyak teman gue yang bilang gue gila mau nganterin dia sejauh itu hampir tiap hari. Mungkin ini yang dinamakan cinta, perlu pengorbanan. Yang gak memberatkan gue. Kadang terasa berat sih kalo lagi cape, tapi mungkin karena cinta jadi gak berasa berat.

Gue belajar untuk menghargai perempuan. Sebagaimana gue menghargai dan menghormati nyokap gue. Sebelumnya gue sering mengganggap wanita adalah objek. Salah satu kesalahan terbesar gue. Setelah gue mengenal cinta, pandangan gue pun berubah. Gue menjadi semakin menghargai yang namanya makhluk perempuan. Dia yang selalu ngingetin gue.

Saat gue butuh teman untuk curhat, orang pertama yang gue lampiaskan adalah dia. Saat gue butuh teman untuk berbagi, orang pertama yang gue datangi adalah dia. Saat gue sedih, orang pertama yang datang adalah dia. Begitu pula saat gue senang, orang pertama yang datang juga dia.

Hubungan gue sama dia selama pacaran sangat terbuka satu sama lain. Terbuka dalam artian gak ada yang kita sembunyikan. Segala hal sekecil apapun selalu kita komunikasikan. Bahkan ketika gue atau dia bosen pacaran kita pun bilang. Maksudnya bukan bosen sama orangnya, tapi bosen sama kegiatan pacaran kita. Dan kita langsung cari solusi yang tepat. Biasanya kita agak mengurangi intensitas komunikasi dan lari dulu ke kesibukan kuliah, hobi dan teman-teman. Setelah itu balik lagi dan semua berjalan normal seperti semula.

Gue punya banyak sekali kekurangan. Egois, emosian, rese (ini kata dia, gue gak mengakuinya lho.) dan banyak lagi. Dia bisa nerima semuanya. Ada kalimat, “Cintailah kekurangan pasanganmu, dan terimalah kelebihannya.” Hal itu yang gue dan mungkin dia juga terapkan dalam hubungan kita.

Empat tahun gue berbagi cinta, rasanya kayak cuma empat bulan. Dan kita baru sadar ternyata kita berbeda. Ya, masalah klasik dalam percintaan. Gue dan dia berbeda agama dan keyakinan. Awalnya sih gue dan dia gak terlalu mempermasalahkan. Makanya kita ngejalanin aja dulu tanpa dipikirkan matang-matang untuk jangka panjang. Gue merasakan sesuatu yang klop sama dia. Gue ngerasa kita uda benar-benar cocok satu sama lain dalam hal apapun. Gue udah kenal dia secara total, begitu juga dengan dia mengenal gue. Yang lebih parah gue terlalu cinta.

Sebelumnya orang tua gue juga berbeda agama sebelum menikah. Bokap gue seorang Muslim. Nyokap seorang Kristen. Tapi bokap gue pindah keyakinan, lalu menikah dengan agama yang sama. Gue punya cerita tersendiri tentang perbedaan yang ada di keluarga besar gue ini. Next time gue akan nulis tentang hal ini. Jujur hal ini gak gue harapkan terjadi pada akhir hubungan gue dengan dia. Dan gue juga gak ada niatan sedikit pun supaya dia dapat memeluk agama yang sama dengan gue. Karena keyakinan dan agama adalah pilihan hidup dan tanggung jawab pribadi dengan Tuhan.

Setelah gue dan dia pikirkan, untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius akan susah banget dengan adanya perbedaan itu. Akhirnya gue dan dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita setelah empat tahun lebih dua bulan kita bareng-bareng. Tanggal 6 Januari 2012. Secara baik-baik  dan sangat berat hati tentunya. Gue dan dia masih berteman sampai saat gue nulis ini. Bahkan jadi semakin dekat. Hati memang gak bisa dipaksakan. Gue masih cinta. Saat nulis ini pun, gue masih berusaha untuk tetap ikhlas nerima kenyataan. Gue berharap semoga setelah nanti gue dan dia menikah dengan pasangan masing-masing, kita masih bisa berhubungan dengan baik. Hehe.

Perasaan gue? Sakit. Itu pasti. Penyesalan juga ada. Tapi gue selalu berusaha mengambil sisi positif dari setiap pengalaman dalam kehidupan. Selama gue bareng dia banyak momen dan pengalaman yang memberikan gue banyak banget pelajaran.

Tiap film punya cerita, tiap buku punya cerita, tiap lagu juga punya cerita. Begitu juga dengan manusia. Tiap manusia punya cerita masing-masing tentang kisahnya dalam percintaan. Kalau diwakilkan dalam sebuah lagu, lagu “Peri Cintaku” dari Marcell sangat pas untuk kisah gue. Mungkin ini salah satu kisah yang diskenariokan Tuhan sama gue dari sekian juta kisah. Dan gue cukup bersyukur atas kisah yang Tuhan berikan untuk gue. Walau sempet galau pol sih. Haha. But life must goes on!

Selain belajar tentang cinta, gue juga belajar mengenai bagaimana menyikapi, menghargai dan menghormati perbedaan yang lebih dalam lagi dari sebelumnya. Mata gue menjadi lebih terbuka dan semakin terbuka dalam menanggapi perbedaan yang Tuhan udah ciptakan.

Tanpa perbedaan gue membayangkan kehidupan yang monoton dan membosankan. Ada perbedaan juga bukan berarti terpecah belah. Tetapi untuk dirangkul, dihargai dan dihormati. Gue melihat dengan adanya perbedaan di bumi ini, iman dan personality orang dapat kelihatan dalam menanggapi perbedaan itu. Ada yang menghargai dan menghormati. Ada juga yang melecehkan dan menjadikan guyonan sehingga timbul permusuhan antar kubu yang berbeda itu. Dengan memahami cinta hal itu gak akan terjadi gue rasa. Perbedaan yang diciptakan oleh Tuhan pasti punya maksud.

Tulisan ini gak akan merepresentasikan cinta yang sesungguhnya. Apalagi gue masih perlu banyak belajar dalam mengungkapkan perasaan menjadi sebuah tulisan. Cinta itu harus dirasakan. Tapi seenggaknya tulisan ini sedikit menggambarkan pengalaman hidup yang membuat gue mengenal tentang cinta dan perbedaan sehingga gue bisa bagikan untuk teman-teman. This is just my outpouring. God bless! :)

-erlanggasd-

  1. erlanggasd posted this