A crazy kid who acts like a wonderful kid.

As time goes by he always meet a new life lesson by his mind or experience and to be shared in this blog.

A failure always evoke his curiosity to try again, try again and try again in a different ways.

Sometimes a confusion or bad feeling come to his heart. But a cup of coffee or exercise at gym or run outside could restore his good mood.

Life in the middle of diversity (religion, ethnic, culture) and often be a minority group make him easy for adapt, tolerant and open mind to new things.

Now he was working in an oil company and still find a way to retired as soon as possible. You know what I mean. Hehehe...

Even he worked in a multinational company, he loves Indonesia so much.

Thanks to all friends that have spent a time to read this blog. He will be very appreciate if you guys have feedbacks or suggestion for him. Please don't hesitate to contact this crazy kid at erlanggasd@gmail.com.

Have a good life, my friends! God bless you!

-erlanggasd-

 

Kalah Start bukan Alasan

Gue adalah seorang penggemar bike racing (balap motor) MotoGP. Dalam suatu race ada kompetisi antar pembalap untuk meraih posisi paling depan. Race itu sendiri terdiri dari sekian keliling (lap). Artinya total panjang lintasan yang harus dilalui dalam suatu race bisa mencapai ratusan kilometer.

Saat race baru dimulai (start) pasti ada seorang pembalap yang meraih posisi terdepan. Untuk menjadi juara dalam suatu race yang menentukan adalah yang pertama menyentuh garis finish. Apakah si pembalap yang pertama meraih posisi terdepan saat race masih berjalan akan menjadi juara race? Jawabannya bisa ya, bisa juga nggak. Ada proses dimana si pembalap harus melewati lintasan balap sepanjang ratusan kilometer dan berkompetisi dengan pembalap lain yang berada di belakangnya sampai menyentuh garis finish.

Gue punya idola MotoGP, namanya Valentino Rossi. Pasti teman-teman familiar dengan namanya. Saat gue menulis ini dia sudah meraih 9 kali juara dunia MotoGP. Apakah Rossi selalu menjadi pembalap yang menempati posisi terdepan saat race baru dimulai? Jawabannya adalah tidak. Kadang Rossi memulainya dari posisi ke-3, ke-7 atau bahkan ke-13. Tapi Rossi sering menjadi pembalap yang pertama kali menyentuh garis finish. Sebelum mengakhiri balapan, Rossi menunjukkan konsistensi dalam menunggangi motornya. Saat berada di posisi ke-7 misalnya, Rossi gak pernah membiarkan pembalap di belakangnya untuk merebut posisinya dengan mudah. Bersamaan dengan itu, Rossi melihat pembalap yang berada di depannya. Dia mengekori dan mempelajari tiap pergerakan si pembalap tersebut. Hingga suatu saat ada celah kosong dengan penuh kepastian Rossi menyusul si pembalap tersebut. Rossi terus melakukan hal tersebut selama race sampai menduduki posisi terdepan. Dengan penuh konsistensi Rossi selalu mempertahankan posisi tersebut  hingga menyentuh garis finish. Itulah kunci keberhasilannya sehingga Rossi dapat meraih gelar juara dunia MotoGP sebanyak 9 kali.

Kadang gue berpikir kalau hidup ini dapat dianalogikan seperti suatu race. Secara langsung atau gak langsung gue sering merasakan suatu kompetisi dalam hidup ini. Misalnya dalam kehidupan berkeluarga, berteman, bermasyarakat, bersekolah, bersosial dan lain sebagainya. Contoh konkritnya: gue dan adik gue yang selalu berlomba untuk berprestasi supaya bisa membuat bonyok kita bangga, saat baru lulus kuliah gue berkompetisi dengan banyak fresh graduate dalam memperebutkan suatu posisi pekerjaan tertentu, teman-teman gue yang berlomba meraih cita-cita mereka dan lain sebagainya. Kompetisi yang gue maksud adalah suatu perlombaan hidup yang memotivasi untuk menjadi yang terbaik dengan cara yang sehat lho ya. Gak ada yang menang dan gak ada juga yang kalah. Tapi yang ada adalah seseorang yang meraih sesuatu yang diidamkan, seperti: kesuksesan, pekerjaan, posisi, kepintaran, IPK yang tinggi, pengakuan dll.

Saat SMP gue punya 2 orang pelatih tim basket. Sebut saja si A dan si B. Si A melatih tim cowok, sedangkan si B melatih tim cewek. A dan B saat itu berstatus sebagai mahasiswa. Mereka berteman sejak SMP. Si B sudah mulai bermain dan berlatih basket sejak SMP, sedangkan si A baru mulai bermain basket saat dia SMA dan diajarkan oleh si B. Tapi saat mereka melatih tim basket SMP gue, permainan basket si A jauh lebih baik daripada si B. Cerita tersebut menggambarkan seperti analogi MotoGP yang gue ceritakan di awal tulisan ini. Ya, si A adalah seorang Rossi dengan versi cerita yang lain.

Kita gak selalu berkesempatan untuk menjadi yang pertama saat memulai, tapi kita memiliki kesempatan untuk jadi yang pertama pada akhirnya. Mungkin saat ini teman-teman sedang berada di posisi tertinggal. Gue sering kok mengalami hal seperti itu. Kadang bisa finish pertama, kadang juga nggak. Haha.

Contoh yang gue bisa finish pertama walau pada awalnya tertinggal adalah saat studi di ITB. IPK gue saat sampai di semester 2 kalah sama seorang teman, sebut aja si C. Tapi pada akhirnya gue lulus duluan dengan IPK yang lebih tinggi daripada si C. Gue bisa finish pertama. Contoh yang gagal finish pertama adalah saat gue mencari pekerjaan setelah lulus. Gue lulus pada Bulan Juli 2011, sedangkan temen gue yang bernama D lulus pada Bulan Oktober 2011. Posisi gue berada di depan si D saat itu karena gue lulus duluan. Tapi pada akhirnya malah si D duluan yang mendapatkan pekerjaan, sedangkan gue baru mendapatkan pekerjaan setelah itu. Finish itu sekarang menjadi Start. Posisi gue tertinggal dan sedang berusaha untuk mengejar si D dan terus konsisten sampai garis finish. Gue masih belajar untuk bisa menjadi seperti seorang Rossi.

Dari pengalaman gue sebagai yang tertinggal, gue memiliki kesempatan untuk dapat melihat sesuatu yang lebih banyak daripada orang yang berada di depan gue. Orang di depan gue gak bisa melihat gue, sedangkan gue bisa melihat orang di depan gue dan beberapa hal yang gak bisa dilihat oleh orang tersebut. Artinya gue bisa menganalisis pergerakannya dan mempelajari hal yang lebih banyak. Gue bisa menjadikan itu dasar untuk mengambil suatu keputusan. Saat orang itu salah ya gak gue ikuti, tapi saat orang itu benar gue modifikasi untuk menjadi yang lebih benar. Hehe.

Jangan pernah berkecil hati dengan posisi tertinggal yang kita duduki sekarang. Tetap konsisten dan terus belajar layaknya seorang Valentino Rossi. Tentunya didukung dengan niat baik, hati yang ikhlas dan doa yang tulus suatu saat kita pasti menyentuh garis finish bersama-sama. Amin!

-erlanggasd-